KECIL DISUKA, MUDA BERKARYA, TUA KAYA RAYA, MATI (mudah-mudahan) MASUK SURGA

Kamis, 18 April 2013

PENDEWASAAN USIA PERKAWINAN (PUP)

Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara  seorang  pria  dengan seorang wanita sebagai suami   isteri dengan  tujuan  membentuk keluarga  atau rumah tangga yang  bahagia  dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (UU Perkawinan NO.  1 /1974, Pasal 1) :
Perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama (kepercayaan) dan dicatat menurut peraturan perundang -undangan yang berlaku. (UU Perkawinan NO.  1 /1974, Pasal 2) :

BEBERAPA PERSIAPAN SEBELUM BERKELUARGA

PERSIAPAN FISIK.  Ditandai dengan adanya kesehatan yang memadai, sehingga kedua belah pihak mampu melaksanakan fungsinya masing-masing, bebas dari penyakit menular dan penyakit keturunan, menghindari perkawinan atau pernikahan yang terlalu dekat nasabnya.

PERSIAPAN FINANSIAL. Dalam kehidupan keluarga, faktor ekonomi juga sangat penting terutama untuk kelangsungan kehidupan keluarga

PERSIAPAN MENTAL (EMOSIONAL). Berkeluarga berarti bersatunya dua individu dengan latar belakang yang berbeda, sehingga perlu penyesuaian

PERSIAPAN MORAL dan SPRITUAL.  Kebutuhan akan spritual, kemauan beribadah, kemampuan mengatasi masalah, godaan, cobaan.

TUJUAN PERNIKAHAN / PERKAWINAN :
  • Menciptakan ketenangan jiwa bagi suami dan istri
  •  ada yang diharapakan dapat menjadi teman dalam suka maupun duka
  • Semakin mandiri dan berprestasi
  • Saling Mendukung bagi kemajuan masing-masing
  • Melahirkan generasi yang berkualitas 

Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) adalah upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. PUP bukan sekedar menunda sampai usia tertentu saja tetapi mengusahakan agar kehamilan pertamapun terjadi pada usia yang cukup dewasa.

Bahkan harus diusahakan apabila seseorang gagal mendewasakan usia perkawinannya, maka penundaan kelahiran anak pertama harus dilakukan. Dalam istilah KIE disebut sebagai anjuran untuk mengubah bulan madu menjadi tahun madu.

Pendewasaan usia perkawinan merupakan bagian dari program Keluarga Berencana Nasional. Program PUP memberikan dampak pada peningkatan umur kawin pertama yang pada gilirannya akan menurunkan Total Fertility Rate (TFR).

Tujuan program pendewasaan usia perkawinan adalah memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar didalam merencanakan keluarga, mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan  kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran. Tujuan PUP seperti ini berimplikasi pada perlunya peningkatan usia kawin yang lebih dewasa.

Program PUP dalam program KB bertujuan meningkatkan usia kawin perempuan pada umur 21 tahun (RPJM 2004- 2009).

Gambaran Usia Kawin di Indonesia

Hasil data SDKI tahun 2007 menunjukan median usia kawin pertama berada pada usia 19,8 tahun sementara hasil SDKI 2002-2003 menunjukan angka 19,2 tahun. Angka ini mengindikasikan bahwa separuh dari pasangan usia subur di Indonesia menikah dibawah usia 20 tahun. Lebih lanjut data SDKI 2007 menunjukkan bahwa angka kehamilan dan kelahiran pada usia muda (< 20 tahun) masih sekitar 8,5%. Angka ini turun dibandingkan kondisi pada SDKI 2002-2003 yaitu 10,2%.

Dalam Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2007 remaja berpendapat usia ideal menikah bagi perempuan adalah 23,1 tahun. Sedangkan usia ideal menikah bagi pria 25,6 tahun terdapat kenaikan jika dibandingkan dengan hasil SKRRI 2002-2003 yaitu remaja berpendapat usia ideal menikah bagi perempuan 20,9 tahun. Sedangkan usia ideal menikah bagi pria 22,8 tahun.

Program Pendewasaan Usia Perkawinan dan Perencanaan Keluarga

Program Pendewasaan Usia kawin dan Perencanaan Keluarga merupakan kerangka dari program pendewasaan usia perkawinan. Kerangka ini terdiri dari tiga masa reproduksi, yaitu : 1) Masa menunda perkawinan dan kehamilan, 2) Masa menjarangkan kehamilan dan 3) Masa mencegah kehamilan. Kerangka ini dapat dilihat seperti uraian berikut :

1. Masa Menunda Perkawinan dan Kehamilan (usia Istri dibawah 20 tahun)

Kelahiran anak yang baik, adalah apabila dilahirkan oleh seorang ibu yang telah berusia 20 tahun. Kelahiran anak, oleh seorang ibu dibawah usia 20 tahun akan dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan anak yang bersangkutan. Oleh sebab itu sangat dianjurkan apabila seorang perempuan belum berusia 20 tahun untuk menunda perkawinannya. Apabila sudah terlanjur menjadi pasangan suami istri yang masih dibawah usia 20 tahun, maka dianjurkan untuk menunda kehamilan.

Beberapa alasan medis secara objektif dari perlunya penundaan usia kawin pertama dan kehamilan pertama bagi istri yang belum berumur 20 tahun adalah sebagai berikut:
a) Kondisi  rahim  dan panggul belum berkembang optimal sehingga dapat mengakibatkan risiko kesakitan dan kematian pada saat persalinan, nifas serta bayinya.
b)      Kemungkinan timbulnya risiko medik sebagai berikut:
• Keguguran
• Preeklamsia (tekanan darah tinggi, cedema, proteinuria)
• Eklamsia (keracunan kehamilan)
• Timbulnya kesulitan persalinan
• Bayi lahir sebelum waktunya
• Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)
• Fistula Vesikovaginal (merembesnya air seni ke vagina)
• Fistula Retrovaginal ( keluarnya gas dan feses/tinja ke vagina)
• Kanker leher rahim

Penundaan kehamilan pada usia dibawah 20 tahun ini dianjurkan dengan menggunakan alat kontrasepsi sebagai berikut:
a)      Prioritas kontrasepsi adalah oral pil, oleh karena peserta masih muda dan sehat
b)  Kondom  kurang menguntungkan, karena pasangan sering bersenggama (frekuensi tinggi) sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi.
c)   AKDR / Spiral / IUD bagi yang belum mempunyai anak merupakan pilihan kedua. AKDR/Spiral/IUD yang digunakan harus dengan ukuran terkecil.

2. Masa Menjarangkan kehamilan (usia Istri pada kisaran 20-35 tahun)

Masa menjarangkan kehamilan terjadi pada periode PUS berada pada umur 20-35 tahun. Secara empiric diketahui bahwa PUS sebaiknya melahirkan pada periode umur 20-35 tahun, sehingga resiko-resiko medic yang diuraikan diatas tidak terjadi. Dalam periode 15 tahun (usia 20-35 tahun) dianjurkan untuk memiliki 2 anak. Sehingga jarak ideal antara dua kelahiran bagi PUS kelompok ini adalah sekitar 7-8 tahun. Patokannya adalah jangan terjadi dua balita dalam periode 5 tahun.

Untuk menjarangkan kehamilan dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. Pemakaian alat kontrasepsi pada tahap ini dilaksanakan untuk menjarangkan kelahiran agar ibu dapat menyusui anaknya dengan cukup banyak dan lama. Semua kontrasepsi, yang dikenal sampai sekarang dalam program Keluarga Berencana Nasional, pada dasarnya cocok untuk menjarangkan kelahiran. Akan tetapi dianjurkan setelah kelahiran anak pertama langsung menggunakan alat kontrasepsi spiral (IUD).

3. Masa Mencegah Kehamilan (usia Istri diatas 35 tahun)

Masa pencegahan kehamilan berada pada periode PUS berumur 35 tahun keatas. Sebab secara empirik diketahui melahirkan anak diatas usia 35 tahun banyak mengalami resiko medik. Pencegahan kehamilan adalah proses yang dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi. Kontrasepsi yang akan dipakai diharapkan berlangsung sampai umur reproduksi dari PUS yang bersangkutan yaitu sekitar 20 tahun dimana PUS sudah berumur 50 tahun.

Alat kontrasepsi yang dianjurkan bagi PUS usia diatas 35 tahun adalah sebagai berikut:
a)    Pilihan utama penggunaan kontrasepsi pada masa ini adalah kontrasepsi mantap (MOW, MOP).
b)    Pilihan ke dua kontrasepsi adalah IUD/AKDR/Spiral
c)  Pil kurang dianjurkan karena pada usia ibu yang relatif tua mempunyai kemungkinan timbulnya akibat sampingan.

Pada fase tersebut diatas, mengingatkan kita pada  4 TER
1.Terlalu muda melahirkan. (Melahirkan dibawah usia 20 tahun)
2.Terlalu tua melahirkan. (Melahirkan diatas usia 35 tahun)
3.Terlalu dekat jarak kelahiran. (Jarak kelahiran tidak lebih dari 2 tahun)
4.Terlalu sering melahirkan. (Lebih dari 3X melahirkan).

(Informasi tentang PUP ini merupakan menjadi bagian dari persiapan remaja untuk memasuki kehidupan berkeluarga.

Materi ini disampaikan pada Forum PIK Remaja Sahabat Ceria SMAN-1 Tasik Payawan tanggal 17 April 2013).
»»  BACA SELENGKAPNYA BRO...

Senin, 15 April 2013

MENGENAL HIV DAN AIDS


A.  PENGERTIAN HIV DAN AIDS
HIV adalah kependekan dari Human Immunodeficiency Virus.  Virus ini menurunkan sampai merusak system kekebalan tubuh manusia. Setelah beberapa tahun jumlah virus semakin banyak sehingga system kekebalan tubuh tidak lagi mampu melawan penyakit yang masuk.
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) atau kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh individu akibat HIV. Ketika individu sudah tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh maka semua penyakit dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh.
Karena sistem kekebalan tubuhnya menjadi sangat lemah, penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi sangat berbahaya.

 B.  ASAL HIV/AIDS
Belum diketahui dengan jelas dari mana dan kapan jelasnya HIV/AIDS muncul. Diperkirakan pada akhir 1970-an di daerah sub sahara Afrika HIV sudah berkembang dan meluas. Perkiraan ini dibuat berdasarkan catatan kasus-kasus penyakit yang ada di rumah-rumah sakit di beberapa negara Afrika pada saat itu.
Hal ini juga diperkuat oleh beberapa contoh darah pada tahun 1950-an yang telah mengandung HIV. Tetapi kasus HIV/AIDS pertama kali dilaporkan oleh Gottleib dan kawan-kawan di Los Angeles pada tanggal 5 Juni 1981.

C.  PENEMU VIRUS HIV
HIV ditemukan oleh Dr. Luc Montaigner dan kawan-kawan dari Institute Pasteur Perancis. Mereka berhasil mengisolasi virus penyebab AIDS ini dengan mengisolasi virus dari kelenjar getah bening dalam tubuh ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang membengkak.
Kemudian pada bulan Juli 1994 Dr. Robert Gallo dari Lembaga Kanker Nasional di Amerika Serikat menyatakan bahwa dia menemukan virus baru dari seorang penderita AIDS yang diberi nama HTLV-III.
Kemudian Ilmuwan lain, J. Levy juga menemukan virus penyebab AIDS yang ia namakan AIDS Related Virus yang disingkat ARV. Akhir Mei 1986 Komisi Taksonomi International sepakat menyebut virus AIDS ini dengan HIV.

D.  KASUS HIV/AIDS PERTAMA DI INDONESIA
Secara resmi kasus AIDS pertama di Indonesia yang dilaporkan adalah pada seorang turis asing di Bali pada tahun 1987. �� Walaupun sebelumnya sudah ada berita tidak resmi bahwa sedikitnya ada tiga kasus AIDS di Jakarta pada tahun 1983 tetapi karena tidak tercatat di Indonesia maka kasus pertama di Indonesia disepakati pada tahun 1987

E.  KASUS HIV/AIDS DI INDONESIA SAAT INI
Kasus HIV/AIDS diindonesia melonjak tajam sejak akhir tahun 90-an. HIV/AIDS banyak diidap oleh penduduk usia produktif, dan lebih banyak diindap oleh laki-laki daripada perempuan. Kasus HIV/AIDS yang sudah dimulai sejak tahun 1987 dari tahun ke tahun semakin bertambah jumlahnya. Menurut Jaringan Epidemiologi Nasional ada beberapa kondisi yang membuat penyebaran AIDS di Indonesia menjadi cepat, antara lain :
1)        Meluasnya pelacuran
2)        Peningkatan hubungan seks pra nikah (sebelum menikah) dan ekstra marital (di luar nikah)
3)        Prevalensi penyakit menular seksual yang tinggi
4)        Kesadaran pemakaian kondom masih rendah
5)        Urbanisasi dan migrasi penduduk yang tinggi
6)        Penggunaan jarum suntik yang tidak steril
7)        Lalu lintas dari dan ke luar negeri yang bebas


F.   FENOMENA GUNUNG ES
Epidemi HIV/AIDS di Indonesia merupakan salah satu yang paling cepat di Asia. Penelitian di RSUP Dr. Kariadi Semarang menunjukkan bahwa infeksi oportunistik yang tersering pada pasien HIV/AIDS adalah kandidiasis orofaringeal sebesar 79%. Kandidiasis orofaringeal adalah infeksi oportunistik mukosa yang banyak kasus disebabkan oleh jamur Candida albicans, tetapi dapat pula disebabkan oleh spesies lain seperti Candida glabrata, Candida tropicalis dan Candida krusei.
Kecenderungan   pengidap   HIV/AIDS   di   Indonesia   terus   meningkat. Menurut   Departemen   Kesehatan   RI   dalam  awal   triwulan   pertama   di   2009, tambahan pengidap HIV/AIDS dengan rentang usia 15-19  tahun saja sebanyak 522 orang  (www.depkes.go.id).  Artinya,   sehari   rata-rata 17,2  remaja  Indonesia terinfeksi  HIV/AIDS.  Maka   kuantitas   dan   kualitas   kampanye   anti  HIV/AIDS perlu semakin ditingkatkan.
Kasus HIV/AIDS bagaikan gunung es. Yang nampak hanyalah permukaan belaka namun kasus yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada kasus yang nampak, maka terjadi apa yang disebut sebagai “Fenomena Gunung Es”. Artinya adalah data kasus statistik mengenai jumlah angka individu yang terinfeksi HIV maupun individu yang AIDS bukan jumlah yang sebenarnya.
Terdapat banyak kasus HIV/AIDS yang tidak dilaporkan mengingat pada fase awal AIDS selain tanpa gejala, juga tidak dapat dideteksi. Selain itu kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV masih rendah. Sehingga dimungkinkan masih banyak kasus yang tidak terdata, dan  menjadikan data yang ada adalah bukan angka yang sebenarnya.

G. TAHAPAN PERUBAHAN HIV MENUJU AIDS
1. Fase 1 : Umur infeksi 1 – 6 bulan (sejak terinfeksi HIV)
Individu sudah terpapar dan terinfeksi, tetapi ciri-ciri terinfeksi belum terlihat meskipun ia melakukan tes darah. Pada fase ini antibody terhadap HIV belum terbentuk. Bisa saja terlihat/mengalami gejala-gejala ringan, seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri)

2. Fase 2 : Umur infeksi: 2-10 tahun setelah terinfeksi HIV.
Pada fase kedua ini individu sudah positif HIV dan belum menampakkan gejala sakit, namun sudah dapat menularkan pada orang lain. Bisa saja terlihat/mengalami gejala-gejala ringan, seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri)

3. Fase 3 : Belum disebut sebagai gejala AIDS.
a.       Mulai muncul gejala-gejala awal penyakit.
b.      Gejala-gejala yang berkaitan antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam, diare terus menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah, serta berat badan terus berkurang. Pada fase ketiga ini sistem kekebalan tubuh mulai berkurang.

4. Fase 4 : Sudah masuk pada fase AIDS.
a.       AIDS baru dapat terdiagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel-T nya.
a.       Timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu TBC, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan bernafas, kanker, khususnya sariawan, kanker kulit atau sarcoma kaposi, , infeksi usus yang menyebabkan diare parah berminggu-minggu, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala.


H.  PENULARAN HIV/AIDS

1. Kegiatan-kegiatan beresiko yang menularkan HIV/AIDS :
Walupun HIV, mungkin terdapat pada bermacam-macam cairan tubuh pengindap HIV, tapi hanya 3 cairan yang dapat menularkan yaitu darah, spirma dan cairan vagina. Seseorang akan tertular HIV jika salah salah satu dari cairan diatas yang mengandung HIV masuk kedalam darah orang yang belum terinfeksi.
Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan berresiko yang dapat menularkan HIV/AIDS :
a.  Hubungan Seks yang tidak aman dengan pengindap HIV/AIDS
b.  Menggunakan jarum suntik yang telah tercemar HIV.
c.  Wanita yang mengindap HIV kepda bayi yang dikandungnya
d.  Ibu Hamil kepada Anak yang dikandungnya :
1)      Antenatal yaitu saat bayi masih berada didalam rahim, melalui plasenta
2)      Intranatal yaitu saat proses persalinan, bayi terpapar darah ibu atau cairan vagina
3)      Postnatal yaitu setelah proses persalinan, melalui air susu ibu
4)      Kenyataannya 25-35% dari semua bayi yang dilahirkan oleh ibu yang sudah terinfeksi di negara berkembang tertular HIV, dan 90% bayi dan anak yang tertular HIV tertular dari ibunya.

2. Cara mencegah tertular HIV/AIDS :
a.       Hanya transfuse darah yang bebas HIV
b.      Menggunakan jarum suntik yang sudah diseterilkan
c.       Tidak melakukan hubungan sek sebelum menikah/diluar nikah
d.      Setia pada pasangannya
e.       Menggunakan kondom jika pasangan tidak pasti atau belum dites.

3.    Perilaku Berisiko Yang Menularkan HIV/AIDS
1.      Menggunakan jarum dan peralatan yang sudah tercemar HIV
2.      Berhubungan seks melalui dubur, oral maupun melalui vagina tanpa perlindungan
3.      Memiliki banyak pasangan seksual atau mempunyai pasangan yang memiliki banyak pasangan lain

I.     PERNYATAAN-PERNYATAAN KELIRU SEPUTAR PENULARAN HIV

Beberapa pendapat yang salah, mengenai penularan HIV diantaranya:
1)      HIV/AIDS menular melalui hubungan kontak sosial biasa dari satu orang ke orang lain di  rumah, tempat kerja atau tempat umum lainnya
2)      HIV/AIDS menular melalui makanan
3)      HIV/AIDS menular melalui udara dan air (kolam renang, toilet, dll)
4)      HIV/AIDS menular melalui serangga/nyamuk
5)      HIV/AIDS menular melalui batuk, bersin, meludah
6)      HIV/AIDS menular melalui bersalaman, menyentuh, berpelukan atau cium pipi


J.    HUBUNGAN ANTARA HIV/AIDS DENGAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DAN HUBUNGAN SEKS BEBAS

1)      HIV/AIDS – Hubungan Seks Bebas Dan Tak Aman
Salah satu media penularan HIV/AIDS yaitu melalui cairan sperma maupun cairan vagina, maka perilaku hubungan seks bebas tidak aman merupakan perilaku yang beresiko tertular maupun menularkan virus HIV.

2)      HIV/AIDS – Penyalahgunaan Napza
Walau tidak seluruh pengguna NAPZA, namun sebagian besar pengguna beberapa jenis NAPZA cenderung menggunakan Jarum Suntik sebagai media pemakaiannya. Penggunaan jarum suntik yang tidak seril dan dilakukan secara bergantian sangat rentan terhadap penularan virus HIV/AIDS (tertular maupun menularkan).
Hal yang lebih mengerikan, Pengguna Napza yang merupakan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) akan membuatnya lebih cepat memasuki fase AIDS. Hal ini dikarenakan karakteristik NAPZA yang bersifat menggerogoti organ tubuh. Termasuk juga perokok, karena rokok memiliki sifat yang sama.

K.  PENCEGAHAN PENULARAN

 1. Secara Umum
Lima cara pokok untuk mencegah penularan HIV (A, B, C, D, E), yaitu:
A: Abstinence – memilih untuk tidak melakukan hubungan seks pranikah
B: Be faithful – saling setia
C: Condom – Menggunakan kondom secara konsisten dan benar
D: Drugs – Tolak penggunaan NAPZA
E: Equipment – Jangan pakai jarum suntik bersama

2.  Untuk Pengguna Napza
Pencandu yang IDU dapat terbebas dari penularan HIV/AIDS jika :
a.    Mulai berhenti menggunakan Napza, sebelum terinfeksi HIV
b.    Atau paling tidak, tidak memakai jarum suntik
c.    Atau paling tidak, sehabis dipakai, jarum suntik langsung dibuang
d.   Atau paling tidak kalau menggunakan jarum yang sama, sterilkan dulu, yaitu dengan merendam pemutih (dengan kadar campuran yang benar) atau direbus dengan ketinggian suhu yang benar. Proses ini biasa disebut bleaching (sterilisasi dengan pemutih)

3. Untuk Remaja
Karena semua orang tanpa kecuali dapat tertular HIV apabila perilakunya sehari-hari termasuk dalam perilaku yang berisiko tinggi terpapar HIV, maka yang perlu dilakukan remaja antara lain:
a)      Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Karena beresiko terhadap penularan HIV/AIDS.
b)      Mencari informasi yang lengkap dan benar yang berkaitan dengan HIV/AIDS
c)      Mendiskusikan secara terbuka permasalahan yang sering dialami remaja --dalam hal ini tentang masalah perilaku seksual- dengan orang tua, guru, teman maupun orang yang memang paham mengenai hal ini.
d)     Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang dan jarum suntik, tato dan tindik
e)      Tidak melakukan kontak langsung percampuran darah dengan orang yang sudah terpapar HIV
f)       Menghindari perilaku yang dapat mengarah pada perilaku yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab

L.  TES DARAH HIV/AIDS
Tes HIV adalah tes yang dilakukan untuk memastikan apakah individu yang bersangkutan telah dinyatakan terkena HIV atau tidak. Tes HIV berfungsi untuk mengetahui adanya antibodi terhadap HIV atau mengetes adanya  antigen HIV dalam darah.
Ada beberapa jenis tes yang biasa dilakukan di antaranya yaitu tes Elisa, tes Dipstik dan tes Western Blot. Masing-masing alat tes memiliki sensitivitas atau kemampuan untuk menemukan orang yang mengidap HIV dan spesifitas atau kemampuan untuk menemukan individu yang tidak mengidap HIV.
Untuk tes antibodi HIV semacam Elisa memiliki sensitivitas yang tinggi. Dengan kata lain persentase pengidap HIV yang memberikan hasil negatif palsu sangat kecil. Sedangkan spesifitasnya adalah antara 99,7%-99,90% dalam arti 0,1% - 0,3% dari semua orang yang tidak berantibodi HIV akan dites positif untuk antibodi tersebut.
Untuk itu hasil Elisa positif perlu diperiksa ulang (dikonfirmasi) dengan metode Western Blot yang mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi.
Syarat tes darah untuk keperluan HIV adalah :
a.       Bersifat rahasia
b.      Harus dengan konseling baik pra tes maupun pasca tes
c.        Tidak ada unsur paksaan
Sedangkan prosedur pemeriksaan darah untuk HIV/AIDS meliputi beberapa tahapan yaitu :
a. Pre tes konseling
► Identifikasi risiko perilaku seksual (pengukuran tingkat risiko perilaku)
► Penjelasan arti hasil tes dan prosedurnya (positif/negatif)
► Informasi HIV/AIDS sejalas-jelasnya
► Identifikasi kebutuhan pasien, setelah mengetahui hasil tes
► Rencana perubahan perilaku
b. Tes darah Elisa
► Hasil tes Elisa (-) kembali melakukan konseling untuk penataan perilaku seks yang lebih aman (safer sex). Pemeriksaan diulang kembali dalam waktu 3-6 bulan berikutnya.
► Hasil tes Elisa (+), konfirmasikan dengan Western Blot
c. Tes Western Blot
► Hasil tes Western Blot (+) laporkan ke dinas kesehatan (dalam keadaan tanpa nama). Lakukan pasca konseling dan pendampingan (menghindari emosi putus asa keinginan untuk bunuh diri).
► Hasil tes Western Blot (-) sama dengan Elisa (-)


M. PENGOBATAN HIV/AIDS
Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh individu. Ada beberapa kasus yang menyatakan bahwa HIV/AIDS dapat disembuhkan. Setelah diteliti lebih lanjut, pengobatannya tidak dilakukan dengan standar medis, tetapi dengan pengobatan alternatif atau pengobatan lainnya.
Obat-obat yang selama ini digunakan berfungsi menahan perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh, bukan menghilangkan HIV dari dalam tubuh. Hal inilah yang dialami Magic Johnson, pebasket tim LA Lakers. Konsumsi obat-obatan dilakukan untuk menahan jalannya virus sehingga kondisi tubuh tetap terjaga.
Obat-obatan ARV sudah dipasarkan secara umum, untuk obat generic, biaya obat ARV  yaitu sekitar Rp. 380.000,- per paket. Namun tidak semua orang yang HIV positif sudah membutuhkan obat-obat ARV, ada kriteria khusus.
 Jadi pengobatan HIV Magic Johnson belum tentu dapat diterapkan pada orang lain. Meskipun semakin hari makin banyak individu yang dinyatakan positif HIV, namun sampai saat ini belum ada informasi adanya obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS. Bahkan sampai sekarang belum ada perkiraan resmi mengenai kapan obat yang dapat menyembuhkan AIDS atau vaksin yang dapat mencegah AIDS ditemukan.
Untuk menahan lajunya tahap perkembangan virus beberapa obat yang ada adalah antiretroviral dan infeksi oportunistik.
1.      Obat antiretroviral adalah obat yang dipergunakan untuk retrovirus seperti HIV guna menghambat perkembang-biakan virus. Obat-obatan yang termasuk anti retroviral yaitu AZT, Didanoisne, Zaecitabine, Stavudine.
2.      Obat infeksi oportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang muncul sebagai efek samping rusaknya kekebalan tubuh. Yang penting untuk pengobatan oportunistik yaitu menggunakan obat-obat sesuai jenis penyakitnya, contoh: obat-obat anti TBC, dll.

BERIKUT BEBERAPA GAMBAR PENDERITA HIV/AIDS :







N.   STIGMA MASYARAKAT TERHADAP  ODHA

Terdapat banyak pendapat untuk memasukkan Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) ke penampungan khusus penderita HIV dan AIDS. Namun ini berarti merupakan satu bentuk  diskriminasi terhadap ODHA. Padahal, tanpa melakukan kontak seksual maupun kontak darah Dengan ODHA, HIV dan AIDS yang ada pada tubuh ODHA tidak akan menular ke individu lain, termasuk kepada Orang Hidup Dengan HIV dan AIDS (OHIDHA).
Selain itu individu yang masih ada dalam fase HIV masih produktif. Sehingga individu yang bersangkutan masih dapat bekerja dan menghasilkan. Dengan adanya shelter berarti terjadi diskriminasi dalam perlakuan. Sebagian masyarakat melakukan diskriminasi karena :
1)        Kurang memperoleh informasi yang benar bagaimana cara penularan HIV dan AIDS, hal-hal apa saja yang dapat menularkan dan apa yang tidak menularkan
2)        Ketakutan terhadap HIV dan AIDS sebagai penyakit yang mematikan. Sehingga mereka belum percaya sepenuhnya informasi yang diberikan.

1.      Apa Yang Harus Dilakukan Oleh ODHA
a.       Mendekatkan diri pada Tuhan
b.      Menjaga kesehatan fisik
c.       Tetap bersikap / berpikir positif
d.      Tetap mengaktualisasikan dirinya
e.       Masuk dalam kelompok dukungan (support group)
f.       Menghindari penyalahgunaan NAPZA
g.      Menghindari seks bebas dan tidak aman
h.      Berusaha mendapatkan terapi HIV / AIDS

2.      Apa Yang Dapat Dilakukan Oleh Masyarakat Terhadap ODHA
Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan kepada ODHA yaitu dengan memberikan dukungan. Dukungan di sini tentunya dalam pengertian yang luas, yaitu misalnya dengan memberikan kesempatan, dan sebagainya. Di antaranya anggota masyarakat harus peduli dengan penanggulangan epidemi AIDS dan mendukung ODHA untuk melawan diskriminasi, peduli terhadap ODHA yang sering mendapatkan penolakan dari orang lain.

Kiranya Tuhan senantiasa menyertai derap langkah hidup kita, dan menghindarkan kita dari HIV/AIDS. Semoga.

(Materi ini disampaikan pada Forum PIK Remaja Sahabat Ceria SMAN-1 Tasik Payawan tanggal 09 April 2013)
»»  BACA SELENGKAPNYA BRO...